
Thank you for reading, keep learning and keep growing.
Reactions
No comments yet.
Saya mendapatkan sebuah insight menarik dari Bang Andi Satriawan Lubis pada salah satu video yang beliau sampaikan di Learn With Andi. Beliau membahas bagaimana kita seharusnya melihat perjalanan karier, bukan hanya dari berapa lama kita bekerja, tetapi juga dari level apa yang sedang kita jalani dan ke level mana kita ingin berkembang.
Ada beberapa poin yang cukup relate dengan perjalanan saya sendiri dan membuat saya berpikir kembali tentang career development. Saya kemudian mencoba merangkum insight tersebut sekaligus menambahkan beberapa refleksi pribadi dari apa yang saya pelajari selama bekerja.
Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana kita bisa melihat perjalanan karier dalam tiga level: actional, managerial, dan strategical. Ketiga level ini bukan sekadar tentang jabatan, tetapi tentang bagaimana responsibility, cara berpikir, dan value yang kita berikan berkembang seiring berjalannya waktu.
Di level actional, kita masih banyak berfokus pada execution: mengerjakan task, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan output.
Ketika masuk ke level managerial, responsibility mulai berkembang. Kita tidak lagi hanya memikirkan pekerjaan sendiri, tetapi juga bagaimana mengelola people, project, resources, dan memastikan sebuah objective bisa tercapai.
Kemudian di level strategical, cara berpikir kita berkembang lebih jauh. Kita mulai memikirkan direction, priorities, decisions, dan impact yang lebih besar terhadap organisasi.
Dari sini, Bang Andi mengingatkan satu hal yang menurut saya cukup penting:
"Please care about your career too."
Sampai kapan kita bekerja, dan sampai kapan kita mau berada di level actional terus?
Menurut beliau, kita perlu memperhatikan sekarang kita berada di level mana. Kalau perjalanan karier hanya dibiarkan mengalir begitu saja tanpa memikirkan arahnya, pertanyaannya adalah: kapan kita mau sampai ke level berikutnya?
Ada satu kalimat dari beliau yang cukup keras, tetapi menarik:
“Hanya seperti kotoran dan ikan mati yang hanyut di sungai.”
Pesannya sederhana: jangan hanya mengikuti arus. Kita perlu tahu sekarang kita ada di mana, mau menuju ke mana, dan apa yang harus dilakukan untuk sampai ke sana.
Salah satu hal yang Bang Andi tekankan adalah pentingnya berinvestasi pada diri sendiri.
Kalau ada course yang memang bisa membantu menaikkan level kita, silakan dikejar. Kalau ada knowledge yang dibutuhkan untuk mencapai next level, pelajari.
Invest ke buku, knowledge, connections, mentoring, dan pengalaman. Hal-hal seperti ini menjadi penting karena semakin tinggi level yang ingin kita capai, semakin banyak pula kemampuan yang perlu kita bangun.
Artinya, investasi pada diri sendiri bukan sekadar mengambil course sebanyak-banyaknya. Kita perlu melihat apakah sesuatu yang kita pelajari benar-benar bisa membantu kita naik ke level berikutnya.
Kalau saat ini masih berada di level actional, misalnya, mungkin yang perlu dikembangkan bukan lagi hanya technical skill. Kita juga perlu mulai membangun communication, ownership, decision-making, project management, mentoring, dan kemampuan melihat sebuah problem dari perspektif yang lebih luas.
Kita juga perlu mempertimbangkan job level, bukan hanya berapa lama kita sudah bekerja. Kalau sudah bekerja sekitar lima tahun tetapi masih berada pada level yang sama, mungkin sudah waktunya mulai mempertimbangkan untuk move.
You can get something better yang bisa menunjang kita untuk naik ke level berikutnya.
Namun, move tidak harus selalu diartikan sebagai pindah company. Kita juga bisa bergerak dengan mendapatkan responsibility yang lebih besar, memimpin sebuah project, menjadi mentor, berpindah ke role dengan ownership yang lebih tinggi, atau masuk ke environment yang memberikan lebih banyak opportunity untuk berkembang.
Intinya, jangan sampai years of experience bertambah, tetapi level dan value kita tidak ikut bertambah.
Lima tahun bekerja belum tentu berarti kita memiliki lima tahun perkembangan. Bisa saja kita sebenarnya memiliki pengalaman satu tahun yang terus diulang selama lima tahun.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama kita bekerja, tetapi juga seberapa jauh capability kita berkembang selama waktu tersebut.
Semakin tinggi level kita, yang dihargai bukan lagi hanya kemampuan untuk execute.
Yang memiliki value lebih tinggi adalah kemampuan di level managerial dan strategical.
Pada level actional, pertanyaan kita mungkin masih:
“Can I solve this problem?”
Ketika responsibility berkembang, pertanyaannya bisa berubah menjadi:
“Can I help other people solve this problem?”
Dan ketika mulai masuk ke level strategical, pertanyaannya berkembang lagi menjadi:
“Are we solving the right problem?”
Di sinilah kita mulai melihat pergeseran dari sekadar actional, menuju managerial dan strategical.
Karena itu, salah satu pertanyaan penting yang bisa kita bawa dalam perjalanan karier adalah:
“How can I get the skills that can move me to the next level?”
Kalau sekarang masih actional, pikirkan skill apa yang dibutuhkan untuk menuju managerial atau technical leadership.
Kalau sudah managerial, pikirkan kemampuan apa yang perlu dikembangkan untuk bisa masuk ke strategical level.
Jadi, jangan hanya belajar sesuatu karena sedang trending. Pelajari sesuatu yang memang membantu kita menuju level berikutnya.
Pada akhirnya, semuanya kembali pada value yang kita bangun sendiri.
Tidak banyak hal yang bisa membantu perjalanan karier kita kalau kita sendiri tidak membangun value yang membuat kemampuan kita semakin bernilai.
Please create your value.
Read the books. Invest in your knowledge. Build connections. Find mentors. Take courses ketika memang course tersebut bisa membantu kita level up.
Kalau jalur yang kita pilih adalah sebagai pekerja atau professional, maka kita perlu terus membangun value yang membuat kita dipercaya untuk menangani responsibility yang lebih besar.
Bukan hanya bertanya:
“How can I get a better job?”
Tetapi mungkin kita bisa mulai bertanya:
“What value should I build so people can trust me with bigger problems, bigger responsibilities, and bigger decisions?”
Karena semakin besar value yang kita miliki, semakin besar pula responsibility yang bisa kita pegang.
Dan semakin besar responsibility yang bisa kita pegang, semakin terbuka juga kesempatan kita untuk bergerak dari actional → managerial → strategical.
Dari keseluruhan pembahasan tersebut, satu hal yang membuat saya kembali merefleksikan perjalanan karier adalah bahwa karier tidak seharusnya hanya dihitung dari berapa lama kita sudah bekerja.
Years of experience memang penting, tetapi yang lebih penting adalah:
Apakah selama waktu tersebut level, capability, responsibility, dan value kita juga ikut berkembang?
Jangan sampai kita terlalu sibuk bekerja sampai lupa memikirkan ke mana sebenarnya karier kita sedang berjalan.
Perhatikan kita sekarang ada di level mana, tentukan mau menuju ke mana, lalu bangun skill dan value yang dibutuhkan untuk sampai ke sana.